Pertarungan kekuasaan di dalam militer kabarnya membuat kerusuhan ini terjadi. Faksi-faksi di dalam tentara, antara “ABRI merah putih” dan “ABRI hijau” yang berusaha menjadi paling dekat dengan Soeharto, membuat para jendral ini berusaha saling menjatuhkan.
Tapi tetap saja, kita tidak tahu siapa yang membakar dan apa tujuannya. Di negeri ini, hal-hal seperti itu tidak pernah dibahas. Mereka yang bertarung pada tahun-tahun itu malah sekarang mendapat kursi empuk kekuasaan.
Yang kedua adalah krisis ekonomi yang mulai pada 1997. Saya menyebutnya sebagai “food riots.” Ini adalah kerusuhan berbasis ekonomi. Di kota-kota besar dan kecil, kerusuhan terjadi. Rakyat tidak memiliki apa-apa untuk dimakan. Sasaran mereka adalah sesama rakyat yang memiliki toko. Karena para pemilik toko di daerah-daerah adalah minoritas Tionghoa, maka merekalah yang menjadi sasaran pertama dari kerusuhan ini.
Dimensi pertarungan kekuasaan juga tidak lepas dari kerusuhan-kerusuhan ini. Para pelakunya tahu persis memainkan sentimen ‘anti-Tionghoa’ yang memang sangat lazim (prevalence) dalam masyarakat Indonesia ketika itu. Soeharto dan militer membatasi peranan peranakan Tionghoa hanya dalam ekonomi — mendorong mereka menjadi penguasa bisnis sambil mengutip rente darinya.









