Royal

oleh -18 views

Oleh: Made Supriatma, Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapura

Anda pernah dengar kata royal? Bukan, ini tidak ada hubungannya dengan kerajaan. Coba buka KBBI deh. Kata itu ada di sana. Artinya, sikap melebih-lebihkan. Kalau saya lebih mengartikan, bertindak melebihi kemampuan khususnya dalam hal finansial. Boros mungkin terlalu moderat. Royal adalah lebih dari boros, dan tujuannya untuk menimbulkan kesan kemewahan, kemegahan, dan kekayaan — yang sebenarnya tidak kita punyai.

Kata ini membawa saya ke tahun 1990an ketika saya masih menjadi asisten pengajar di sebuah universitas. Sebagian dari mahasiswa di sana adalah mereka yang sedang ‘tugas belajar.” Mereka pernah mengambil diploma (D3 atau D4, saya lupa) dan masuk ke lembaga tempat saya kerja itu karena ingin mengambil S1.

Baca Juga  Lebih dari 1.000 Jemaah Haji Meninggal karena Panas Ekstrem

Sementara itu, mereka sudah bekerja. Umumnya dari pemerintah-pemerintah daerah dari seluruh Indonesia. Mereka sudah berumur — rata-rata berkeluarga. Banyak dari mereka yang datang sendirian karena terlalu berat membawa keluarga.

Tentu mereka berbeda dari mahasiswa reguler yang muda dan kadang juga memberontak. Para mahasiswa TB (tugas belajar) ini karena sudah menjadi pegawai, diikat oleh ketentuan-ketentuan untuk tidak melawan pemerintah. Karena mereka itulah pemerintah. Sehingga, kita bisa dengan mudah melihat perbedaan antara mahasiswa TB dan reguler.

No More Posts Available.

No more pages to load.