Saatnya KAHMI Keluar Kandang dari Zona Nyaman

oleh -90 views
Link Banner

Oleh: Syaiful Bahri Ruray, Mantan Ketum HMI Cabang Manado, Sekjen PB HMI

Jika Munas Kahmi, sebagai kelompok cendikiawan itu, bermunas di tempat2 yang dipilih sebagai daerah mayoritas muslim, bukanlah sesuatu yang luar biasa. Karena dukungan basis sosial tidaklah dipungkiri lagi. Namun sejarah akan mencatat hal baru, jika Kahmi berani bermunas di kawasan tempur sebenarnya, yakni di kawasan yang mayoritas bukan muslim, namun Kahmi berhasil meyakinkan pimpinan daerah tsb, yang notabene adalah seorang aktivis gereja, menjadi tuan rumah bagi Kahmi. Karena disitulah tantangan sebenarnya Kahmi untuk mampu hadir, dan eksis, sebagai pembawa pijar rahmatan lil alamin.

Artinya Kahmi berani keluar dari zona nyaman selama ini. Daerah Sulut adalah pilihan sejati, yang menantang Kahmi, karena kawasan Pacific Rim bergulir disitu.

Secara historis, kawasan itu menjadi tempat pembuangan Kyai Modjo, dan 63 Pasukan Inti Pangeran Diponegoro, yang semuanya adalah lelaki, namun kemampuan syiar Islam dan jihad mereka, mampu menjadi sebuah cahaya rahmat di kawasan yang disebut Jawa Tondano (Jaton), kawasan dimana HMI pertama kali hadir saat PTPG (Perguruan Tinggi Pendidikan Guru), cikal bakal IKIP Negeri kemudian hari, didirikan pada 1955, oleh Menteri Pendidikan dan Pengajaran (skrg: Mendikbud), Mr.Mohamad Yamin tsb.

Di Sulut juga, sang pemimpin Perang Paderi, Tuanku Imam Bonjol alias Alias Peto Syarif, dibuang dan dikucilkan ke Desa Lota, Kawasan Pineleng, pinggiran selatan Kota Manado. Lalu buntut Pemberontakan Banten (1888), seorang murid utama Syekh Nawawi Al Bantani, yaitu Kyai Haji Al Sayyid Arsyad Thawil Al Bantani, dibuang dari Banten ke Manado (Komo Luar). Juga sisa2 Pemberontakan Banjar (Pangeran Antasari), sengaja dikucilkan Belanda ke Manado, bahkan mereka membentuk Kampung Banjer, hingga sekarang. Saat ini justeru Pijar Islam tumbuh di kawasan Sulut dengan pesat dan damai.

Baca Juga  Jelang Ramadhan, Harga Cabai Merah di Kota Ambon Turun

Cucu2 dari para mujahid Islam itu, bahkan menjadi pelopor dalam berHMI dan dakwah Islam di Bumi Nyiur Melambai hingga kini.
Mereka berada di garis depan pertempuran dakwah yang sesungguhnya, yang oleh masukan Snouck Hurgronje, maupun Lodewijk William Christiaan van den Berg, dua penasehat utama Pemerintah Kolonial Belanda, yang sengaja melempar jauh2 para mujahid2 itu ke Sulut untuk dikucilkan, dari Tanah Swarnadwipa dan Jawadwipa, untuk memadamkan api syiar.

Mungkin zaman old, Jazirah Minahasa, dimana masih ada juga frasa de Aliefoericsh (Halifuru) itu, adalah semacam tempat jin buang anak juga, meminjam diksi Dedy Mulyadi atas Borneo. Namun begitulah sejarah menceritakan, KH. Arsyad Thawil mengislamkan dua isterinya yang anak pendeta, salah satunya bermarga Roentoe (muallaf). Demikian juga 63 Pasukan Inti Kyai Modjo (1764-1849), Panglima dan Guru Pangeran Diponegoro, menikahi puteri2 kepala suku atau Walak Minahasa, dan mengislamkan mereka. Bahkan Kyai Modjo berwasiat agar anak mantunya, bermarga Tombokan yang muallaf itu, dikuburkan dekat makamnya jika wafat kelak. Demikian juga Peto Syarif alias Tuanku Imam Bonjol (1772-1864), menyisakan petilasan tempat ia dikucilkan di Desa Lota, dan masih dapat kita lihat batu sajadah, tempat Imam Bonjol melakukan shalat di tepi Sungai Pineleng tsb.

Di Pineleng juga, bersebelahan, dengan Sekolah Seminari Katolik tertua, bahkan disitu pula, dalam cerita mulut ke mulut, pertama kalinya kaum Katolik bermukim, setelah Perang Baabullah, yang mengepung Portugis di Benteng Nuestra Senhora del Rosario di Benteng Kastela, Ternate (1575), yang mampu menunda kolonialisme di Nusantara selama seabad. Kini, semua lokasi2 itu, di pelihara oleh Pemda setempat, yang mayoritas Kristen tersebut, menjadi situs sejarah dan destinasi wisata historis…bahkan anak cucu zuriyat langsung para mujahid itu, tetap ada disitu, sebagai kuncen, penghuni tetap lokasi tsb.

Baca Juga  Mulai 15 Februari, Citilink Layani Rute Ternate - Jakarta

Jika Kahmi benar2 mau berjuang, maka napak tilas para mujahid di Jazirah Minahasa itu, adalah peletak dasar yang harus dilanjutkan oleh Kahmi. Karena berHMI di Manado, itu berbeda dengan dengan berHMI di tempat lain yang dukungan sosial melimpah ruah karena mayoritas muslim.

HMI Manado sendiri telah mengembangkan sayapnya menjadi HMI Gorontalo, HMI Bitung, HMI Tondano, dan HMI Bolaang Mongondow sekarang. Pilihan munas di Kota Manado, adalah tepat bagi organisasi sekelas Kahmi, jika memposisikan diri Kahmi sebagai organisasi pejuang dan cendikiawan.

Hadir sebagai upaya besar menampilkan Islam dengan spirit rahmatan lil alamin, di kawasan yang mayoritas bukan muslim. Kahmi harus berani tampil dan keluar dari zona nyamannya. Di tengah disrupsi dan transformasi sosial yang sedang berlangsung dengan cepat sekarang ini, adalah saatnya bagi Kahmi untuk menjemput bola.

Baca Juga  Survei Charta Politika Ungkap Basis Massa Anies Baswedan Ada di 6 Partai Besar

Kehadiran Kahmi jika bermunas di Manado, akan jauh lebih bermanfaat bagi peran kebangsaan Kahmi terhadap Indonesia yang lebih baik, disaat mana masih banyaknya agenda2 keumatan yang belum juga selesai, sebutlah semisalnya fenomena Islamophobia, soal ekonomi umat, isyu IKN, dll..kehadiran Munas Kahmi di Manado, jelas bakal berdampak berbeda, bukan sekedar rutinitas bermunas biasa2 saja, sebagaimana selama ini berlangsung dalam setiap periodik munas Kahmi. Yakin Usaha Sampai! (*)

Jakarta, 8 Februari 2022

No More Posts Available.

No more pages to load.