Sajak Perjalanan dan Tiga Puisi Lain Wirol Haurissa

oleh -1 Dilihat

TERNATE, LAUT DAN TIDORE

pada sore yang tipis. dari ternate, “saya datang” ke situ; orang-orang bilang itu tidore seperti cerita dalam buku pelajaran sekolah. saya duduk di dekat laut di atas motor kayu bersama kekasih dan dua belas sahabat dalam cerita yesus melewati ombak yang rata. setelah tiba di pelabuhan, saya pikir baru kali ini, kami bertemu sultan dan saudara muslim yang bersahaja.

masih pada sore, tatapan lebar dan senyum laut “di bulu” orang-orang menyebutnya tomalou, kampung nelayan yang membuat saya duduk di kanan seperti luas tanah lapang hijau tempat anak-anak pelayaran tinggal, langit-langitnya di penuhi burung furnitur, musiknya dari suara lumba-lumba dekat pulau mare, lantainya dari ombak, lalu atapnya dari awan-awan. semuanya dilihat kie matubu, gunung tinggi yang membusungkan dadanya ke langit.

Baca Juga  Dari Mulyono ke Mulyadi: Negeri yang Memilih Popularitas

sore sudah tebal. malam sudah bertamu semacam perjalanan kami yang sejuh dengan memandang sampan dengan kekuatan dari laut. ada keramahan, pembagian yang adil dan ketenangan. dari situ, saya pikir; kami dan mereka adalah cerita yang tertinggal tanpa untung atau rugi.

Tidore, 12 Agustus 2022

=========

TAPI INI BUKAN PASAR

perjalanan di laut ramai sekali seperti gerombolan penjual tas kresek di pasar yang bunyinya ke sana ke mari. tapi ini bukan pasar.

No More Posts Available.

No more pages to load.