Oleh: Ari Junaedi, Akademisi dan konsultan komunikasi
“Memulai program Doktor adalah tugas berat, bahkan bagi orang paling berani dan pemberani di dunia ini. Namun di sinilah saya duduk, menulis jalan saya melalui rintangan terakhir dari pengalaman yang mengubah hidup ini”. – James Beattie.
SELARIK kalimat yang ditulis Alumni Fakultas Sains dan Kedokteran Universitas Nasional Australia ini memang ada benarnya. Saya merasakan “betapa beratnya” kuliah di Program S-3 kelas reguler.
Walau perkuliahan saya lakukan di Universitas Padjadjaran, Bandung, tapi obyek dan lokasi penelitian saya terbentang di China, di beberapa negara di Eropa seperti Jerman, Belanda, Perancis, Swedia, Italia, Belgia, Spanyol hingga Korea Utara.
Belum lagi saya harus mengunjungi beberapa wilayah di Tanah Air seperti di Blora (Jawa Tengah), Belitong (Bangka Belitung) hingga Tasikmalaya (Jawa Barat) dan daerah-daerah lain untuk croos check data.
Saya pun harus berkuliah saban hari selama 3 semester di Kampus Dipati Ukur, Bandung di penghujung 2005. Karena saya menempuh Pendidikan S-2 di UI, maka saya mendapat kewajiban untuk mengikuti kelas matrikulasi selama hampir 3 bulan di Kampus Sekeloa, Bandung.
Saya begitu intens dibimbing oleh tim promotor dari Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran dan Universitas Gadjah Mada.










