Kini, polisi Swedia justru punya tugas baru yakni menyelidiki kasus ini. Saat ini mereka sudah menangkap beberapa tersangka yang diyakini bertanggungjawab atas tewasnya Salwan Momika.

Berdasarkan penelusuran Beritasatu.com, Salwan Momika lahir di distrik Al-Hamdaniya, Irak, dan berasal dari komunitas Katolik Asyur. Selama perang saudara Irak (2006-2008), ia bergabung dengan Partai Patriotik Asyur dan bekerja sebagai petugas keamanan di kantor partai di Mosul.
Ketika ISIS merebut Mosul pada 2014, Salwan Momika bergabung dengan Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) untuk melawan kelompok teroris tersebut. Ia tergabung dalam unit Kristen dan terlihat dalam berbagai rekaman mengenakan seragam militer, membawa senjata, serta menyatakan kesetiaannya kepada Brigade Imam Ali, sayap militer Gerakan Islam Irak.
Namun, pada 2017, Salwan Momika meninggalkan Irak dan mengajukan suaka ke Jerman dengan visa Schengen. Di sana, ia secara terbuka meninggalkan agama Kristen dan menyatakan dirinya sebagai seorang ateis. Setahun kemudian, ia pindah ke Swedia dan terdaftar sebagai pengungsi asal Irak.
Pada 2021, ia diberikan izin tinggal sementara selama tiga tahun, tetapi permohonannya untuk mendapatkan izin tinggal permanen ditolak karena adanya ketidaksesuaian informasi dalam dokumen imigrasinya, termasuk klaim palsunya tentang keterlibatan dengan Brigade Imam Ali.









