Sambal Dawet di Meja Nangka

oleh -441 views

Saya datang ke sana bukan sebagai wisatawan, bukan pula sebagai jurnalis yang ingin mencari sensasi dari kampung. Saya datang untuk mendengar, dan kalau beruntung, menyerap sesuatu yang tak akan saya temukan di tempat lain.

Rumah pertama yang saya datangi berdiri lumayan besar dan bersahaja, tepat di sebelah Masjid Al-Hidayah. Di teras depannya, duduk seorang lelaki berwajah teduh, bersandar di kursi kayu, seperti seseorang yang tak sedang menunggu siapa pun. Namanya Sarijo.sm—seorang Kamutuo Kelurahan, Duku kampung, sekaligus Kaum Rois. Ia memegang amanah lebih dari 8.000 jiwa dan 16.000 hektare wilayah, tapi tak ada bayang kuasa di caranya bicara.

Kami duduk menghadap kebun, di atas meja kayu nangka yang berurat besar dan berwarna emas tua. Di hadapan saya, sudah terhidang satu piring kecil yang membuat saya terdiam: dawet sambal.

Baca Juga  Hardiknas 2026 di Tual Digelar Sederhana, Disdikbud Fokus Baksos Lingkungan

Bukan minuman manis dingin seperti yang kita kenal di pasar. Yang ini lebih seperti makanan kecil. Dawet dari cendol kenyal disajikan nyaris tanpa kuah, hanya sedikit santan dan gula, dan yang paling mengejutkan: ditaburi sambal cabe rawit segar.

“Cuma ada di sini,” kata Pak Sarijo dengan senyum tipis. “Dari dulu begitu. Pedasnya itu yang bikin orang ingat rumah.”

No More Posts Available.

No more pages to load.