Hutang luar negeri terus meroket sejak periode pertama Jokowi. Dalam kurang lebih enam tahun, Jokowi membuat utang baru sekitar Rp 4000 Triliun. Padahal sebelumnya ia mencibir utang luar negeri dan menyatakan akan menyetopnya.

Hal-hal itu sebenarnya sudah cukup untuk menyoal kompetensinya sebagai pemimpin. Namun suara suara kritis yang mulai muncul saat itu masih sangat lirih.
Pada pemilu 2019, Jokowi kembali memenangi pemilu sebagai “orang baik”: ia menjadi antitesa dari Prabowo yang memanfaatkan kengerian politik identitas.
Namun setelah ia memenangi pemilu, bahkan setelah menarik Prabowo ke dalam kabinetnya, ketegangan dan keterbelahan politik tidak ia akhiri. “Kadrun”, “Taliban”, “Islam radikal”, katagori politik yang dulu mengantarkan kemenangannya dalam pemilu, terus membelah masyarakat hingga kini, hampir seperti suatu histeria.
Ketika Jokowi dikritik melemahkan KPK dan membahayakan pemberantasan korupsi, kawanan pendengung Jokowi menuduh KPK diisi dan dikendalikan oleh “Taliban”. Namun seorang penyidik yang disingkirkan dari KPK membantah telak tudingan itu. “Saya Saliban”, katanya. Saya kristen”.
Penyidik lain juga membantah: “Bila tuduhan Taliban itu benar, mana bisa saya bekerja di KPK?” Ia beragama Budha dan dilahirkan dari keluarga Tionghoa.




