“Ada apa?” tanya Aria bingung dan heran.
“Gue lagi kesel sama seseorang.” Aria menaikkan ke dua alisnya secara bersamaan.
Aria menanyakan lagi, “Sama siapa?” Aria sedang menerka-nerka orang yang dimaksud Anne. Ya, siapa lagi kalau bukan Damar. Damar salah satu mahasiswa favorit di kampus ini. Damar memiliki wajah yang tampan—sebelas dua belas dengan kekasihnya.
“Sama Damar.” Aria mengembangkan senyuman manis. Entah mengapa, Aria merestui hubungan Anne dengan Damar. Karena di saat mereka bertemu rasanya mereka memiliki kecocokan.
“Kok, senyum.” Anne memasang wajah cemberut. Anne tak menyukai reaksi Aria seperti itu. Sampai kapan pun, Anne tak akan menyukai Damar. Damar bukan tipe idealnya. Tipe ideal Anne seperti Dennis—kekasih sahabatnya. Namun, Anne tak ada niatan untuk merebut Dennis dari Aria.
“Kamu itu cocok tahu sama Damar.” Anne mencubit lengan atas Aria sebagai reaksi. Sedangkan, reaksi Aria setelah dicubit oleh Anne yaitu, menjerit kesakitan.
Belum beberapa menit, Damar menegur Aria dan Anne. Damar mau menanyakan sesuatu soal Dennis—sahabatnya. Hampir berbulan-bulan Dennis menghilang. Damar sudah menanyakan ke orang-orang terdekat Dennis, tetapi mereka tak tahu sedikit pun. Seolah-olah Dennis tak mau muncul di hadapan mereka sejak kasus itu.









