Arab Saudi memiliki infrastruktur energi yang sangat penting.
Di sisi lain, Bab el-Mandeb menjadi pintu masuk dan keluar Laut Merah.
Sementara di kawasan lain terdapat Selat Hormuz yang juga merupakan jalur strategis energi dunia.
Jika dua chokepoint tersebut terganggu secara bersamaan, dampaknya dapat menjalar ke harga minyak, biaya pelayaran, rantai pasok dan perekonomian global.
Namun di balik perebutan pengaruh antara Iran dan Arab Saudi, serta ketegangan geopolitik Timur Tengah, masyarakat Yaman tetap menjadi pihak yang paling menderita.
PBB memperkirakan 22,3 juta orang di Yaman membutuhkan bantuan kemanusiaan dan perlindungan pada 2026.
Sebanyak sekitar 18,3 juta orang menghadapi kerawanan pangan akut, sementara sekitar 5,2 juta orang menjadi pengungsi internal.
Angka tersebut menunjukkan bahwa meskipun perang mengalami penurunan intensitas setelah 2022, krisis Yaman belum benar-benar berakhir.
Konflik telah menghancurkan ekonomi, layanan publik dan infrastruktur dasar.
Karena itu, ketika dunia membicarakan rudal Houthi, serangan terhadap Saudi dan ancaman terhadap Laut Merah, jutaan warga Yaman masih berjuang untuk mendapatkan makanan, tempat tinggal dan layanan kesehatan.
Lalu, apakah Houthi merupakan pasukan Iran?











