Siti Fadilah Supari: Divaksin Atau Tidak Divaksin, Risikonya Sama. Tameng Kita Adalah Masker

oleh -264 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Mantan Menteri Kesehatan, Siti Fadilah Supari membahas tentang pandemi Covid-19 yang terjadi akhir-akhir ini.

Dia berbicara dengan ahli virologi Prof. Nidom membahas pandemi Covid-19 dan juga virus corona yang kini telah banyak bermutasi.

Karena mutasi virus corona ini, sehingga masyarakat wajib untuk terus memakai masker dan menjaga protokol kesehatan.

“Divaksin ataupun tidak divaksin, resikonya untuk terkena Covid itu sama dan (tingkat) kematiannya juga sama,” kata Siti Fadilah Supari di kanal Youtube Siti Fadilah Supari Channel.

Profesor Nidom menyambung, “Bedanya kalau sudah divaksin, masyarakat jadi lebih abai (Protokol kesehatan),” katanya.

“Harapan pemerintah, dengan 70 persen (masyarakat Indonesia) dia vaksin, 70 persen juga terjadi imunitas. Padahal itu tidak mungkin. Karena efikasinya, tidak ada yang 100 persen,” kata Siti Fadilah Supari.

“Hal-hal yang kayak gini sebetulnya kan Scientific banget. Kenapa tidak ada yang bersuara kepada Menteri Kesehatan gitu, Jadi jangan You kejar yang 180 juta rakyat itu nanti Anda yang mengejar sesuatu yang tidak akan Anda dapet. Uang banyak keluar tapi korban akan cukup banyak,” katanya.

Baca Juga  5 Model Dress yang Cocok untuk Pemilik Betis Besar

Prof Nidom mengatakan, banyak tenaga kesehatan yang sudah divaksin lengkap juga terkena Covid-19. Seperti di Kudus, di Bangkalan, dan di beberapa daerah lain. Kurang lebih 350 orang tenaga kesehatan. Yang meninggal 15 orang

“Itu kenapa tidak diekspose, sehingga masyarakat tahu bahwa divaksin ataupun tidak divaksin risikonya untuk terkena Covid-19 itu sama, dan (tingkat) kematiannya juga sama,” kata Siti Fadilah.

“Bedanya kalau sudah divaksin, masyarakat jadi lebih abai pada penggunaan masker (Protokol kesehatan),” kata Prof Nidom menimpali.

“Kenapa Saya menginginkan program vaksin kovensional ini disetop dulu untuk dievaluasi. Kalau memang ini tidak menunjukkan hasil yang diharapkan ya sudah diganti. Kalau (tetap) mau vaksin. Kalau nggak yang tetap laksanakan Protokol kesehatan saja, dulu juga sebelum ada vaksin kan juga Prokes. Memang ada risiko tapi Prokesnya yang harus diperkuat, gitu” kata Prof Nidom.

Baca Juga  Kapal Belum Ditemukan, Tim SAR Tatap Muka dengan Keluarga Kru MV. Nur Allya di Ternate

“Kalau saya bilang, bahwa mengendalikan virus itu mungkin saat ini untuk menghadapi Covid, flu, dan sebagainya itu tameng kita adalah masker,” katanya.

“Karena apa? Masker itu kan menghalangi masuknya virus ke hidung. Jadi dia mati di udara. Saya bilang, masker ini cara membunuh virus (secara) Sunatullah”.

“Kalau kita biarkan tanpa masker, virus masuk ke dalam tubuh, kemudian di dalam tubuh digempur oleh Antibodi. Maka virus tidak mau mati sia-sia. Di situ dia mulai mutasi,” katanya.

Vaksinasi juga turut berperan dalam mutasi virus. “Mutasi akibat vaksinasi ini juga cukup tinggi. Justru karena vaksinasi, mutasi akan lebih banyak,” katanya.

“Saya mungkin berbeda pendapat dengan para pengambil kebijakan. Tapi itu harus saya suarakan karena itu adalah keyakinan saya,” kata Prof Nidom.

Baca Juga  Jokowi Mania: PT GSI Sudah 7 Kali Ubah Akta untuk Samarkan Bisnis PCR

“Kita memang kadang-kadang harus bersuara yang sesuai dengan hati nurasi kita dan sesuai dengan ilmu yang kita tekunin dan jangan takut. Maksudnya kita kan bukan untuk menghalang-halangi tapi untuk agar bangsa ini mendapat treat (perawatan) yang terbaik,” ucap Siti Fadilah.

(red/tribunnews)

No More Posts Available.

No more pages to load.