Soumokil: Antara Federalis dan Separatis

oleh -594 views
Presiden RMS Chris Soumokil dalam persembunyiannya di Pulau Seram. (Sumber: pbs.twimg.com)

Menurut Syaramanual, seperti dicatat buku Soumokil dan Hantjurnja RMS (1964), “Proklamasi RMS itu benar-benar hasil tekanan dan paksaan bayonet belaka.”

Soumokil yang baru tiba di Ambon, meski dia otak penting dari RMS dan Ambon, tak serta-merta langsung menjadi presiden. Semula ia menjadi Menteri Luar Negeri. Setelah 3 Mei, barulah dia menjadi Presiden RMS selama bertahun-tahun, baik saat masih berada di Kota Ambon maupun saat bergerilya. Sampai akhirnya ia tertangkap pada 2 Desember 1963.

Dekat dengan Pihak Belanda

Soumokil sebenarnya tidak lahir di Ambon. Dia lahir di Surabaya pada 13 Oktober 1905. Ayahnya adalah pejabat rendah di Kantor Pos di Semarang. Soumokil beruntung bisa menikmati belajar sekolah elit Hogere Burger School (HBS) Kristen di Surabaya. Menurut De Telegraph (05/09/1964), setamat HBS Soumokil kemudian berangkat ke Belanda.

Baca Juga  Ketua DPRD Maluku Minta Pemprov Serius Tindaklanjuti Temuan BPK

Menurut Richard Chauvel, dalam Nationalist, Soldiers and Separatist: Ambonese Island from Colonialism and Revolt 1880-1950, (1990), mulanya ia berusaha masuk ke fakultas kedokteran, namun mundur di tengah jalan. Tak lama kemudian ia masuk fakultas hukum hingga mendapatkan gelar doktor. Dia lulus pada 1934 dan menjadi seorang ahli Yurisprudensi.

Menurut Ratno Lukito, dalam Hukum Sakral dan Hukum Sekuler: Studi tentang Konflik dan Resolusi dalam Sistem Hukum di Indonesia (2008), bersama Kusumaatmatmaja dan Soepomo, Soumokil tergolong orang-orang pertama yang belajar hukum di Universitas Leiden.

No More Posts Available.

No more pages to load.