Strategi Memindahkan Sebagian Beban Kota Ambon, Sebuah  Gagasan Awal

oleh -1,425 views

Oleh: Bito S. Temmar, Politisi senior

Konsisten sejak menjabat hingga definitif Walikota  Ambon: menertibkan dan menata kebersihan dan kelayakan Pasar Mardika, layak mendapat apresiasi dan dukungan semua pihak, segenap warga kota Ambon. Pedagang, warga masyarakat, dan bahkan elit pemerintahan beralasan sumringah saat mengunjungi pasar terbesar itu makin tertib, bersih, dan manusiawi. Kendati begitu, di seberang,  ada saja  yang kritis dan awas; tak larut begitu saja dengan capaian kinerja walikota dan jajarannya. Tentu ada yang mengusik. 

Problematik fundamental Kota Ambon yang terus “mengintai”, yakni:  ketidakseimbangan beban yang terus bertambah terhadap daya dukung yang terbatas, kompleks, dan penuh resiko — menyodorkan kesadaran  sekaligus  menjadi PR  bagi  walikota dan jajaran serta DPRD.  Mudah-mudahan pemprov dan DPRD  Maluku peduli juga. 

Baca Juga  Iran Klaim Serang Pangkalan Militer AS di Kawasan Teluk, AS Balas Hantam Puluhan Target Iran

Dirunut kebelakang, ada janji dan retorika politik yang  dimotifikasi adagium warung kopi “tiba saat tiba akal”, yang pernah begitu menggiurkan  untuk memindahkan ibukota provinsi Maluku keluar Kota Ambon sebagai pilihan yang paling mungkin terhadap dinamika pembangunan terus meningkat. Tapi ternyata gagal direalisasikan.

Maka inilah  saatnya problem ketidakseimbangan beban terhadap daya dukung hadir sebagai issu  penting yang merangsang diskursus publik  yang mendorong formulasi kebijakan untuk menemukan jalan keluar. Bukan tanpa alasan problematik fundamental seperti ini  dijadikan tema diskursus. Pertama,  sudah lama gejala  ketidakseimbangan beban terhadap daya dukung  dikenali sebagai variabel krisis yang merusak natur kota (pulau) Ambon. 

No More Posts Available.

No more pages to load.