Survival the Fittest

oleh -27 views
Link Banner

Oleh: Made Supriatma, Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapore

Pandemi ini telah mengungkap jurang sosial dan ekonomi kita. Inilah saat-saat yang membuka dengan telanjang semua kesenjangan yang pada jaman normal mampu kita tutup-tutupi dengan segala macam cara.

Saya bicara tentang segala macam kesenjangan. Di awal-awal pandemi, rame diberitakan bahwa keluarga-keluarga kaya menyewa jet-jet pribadi untuk pergi ke luar negeri. Mereka mencari tempat yang aman.

Itu mungkin bisa dimaklumi. Para ‘crazy rich’ ini memakai kekuatan kekayaannya untuk menyelamatkan diri sendiri.

Pandemi ini tanpa ampun mengungkap ‘survival of the fittest.’ Baik di bidang kesehatan maupun di bidang-bidang lain. Kalau Anda komorbid dan hidup dengan ‘pre-existing conditions’ (kondisi kesehatan menahun yang sudah ada sebelumnya) maka Anda tumbang.

Kalau Anda miskin, dan Anda terinfeksi, Anda tidak punya akses ke rumah sakit, tidak punya akses ke obat-obatan, Anda juga harus tumbang.

Kemiskinan juga memaksa Anda untuk mengais rejeki diluaran. Disinipun Anda dipaksa tumbang. Jika tidak karena virus, ya karena Anda tidak bisa bekerja.

Pendek kata, pandemi ini bukan untuk orang miskin, bukan untuk orang yang tidak punya kekuasaan, bukan untuk orang yang tidak sehat, dan orang-orang yang tidak punya kekuatan.

Baca Juga  Daniel Dhakidae: Wakil Sebuah Generasi Intelektual

Pandemi ini membuat yang kuat tambah kuat. Yang berkuasa tambah berkuasa. Dan dalam banyak hal, yang kaya bertambah kaya. Lihatlah ledakan kekayaan orang-orang paling kaya di dunia — dan juga saya kira di Indonesia.

Adakah jalan keluar dari problematika ini? Untuk saya, ada. Jawabnya adalah: negara. Untuk itulah negara itu ada. Dalam konsep negara modern, ia ada untuk melindungi yang lemah dan mengerem kekuasaan yang kuat agar tidak terlalu berkuasa.

Tentu saja, konsep negara ini bisa diperdebatkan. Untuk kaum liberal dan neo-liberal, konsep neagra bisa sebaliknya. Negara itu hadir untuk melindungi yang kuat agar bisa berkembang dan memberikan manfaat kepada yang lemah.

Bagaimana dengan kita? Konsep negara yang mana yang kita pegang? Sulit untuk mengetahui karena kita tidak pernah mengelaborasinya secara teoritik.

Kita mengklaim bahwa konsep negara kita adalah Pancasila. Namun dimana negara Pancasila ini berdiri? Kabarnya ini adalah negara gotong royong, yang dibangun bersama. Tetapi yang jelas kelihatan adalah negara yang ‘survival the fittest,’ siapa yang kuat dia yang menang.

Baca Juga  Australia Bakar Kapal Nelayan Indonesia yang Tertangkap Bawa Sirip Hiu Ilegal

Itulah yang saya simpulkan ketika membaca sebuah berita yang berjudul “Politikus PAN Minta Pemerintah Sediakan Rumah Sakit Covid-19 Khusus Pejabat.”

Para elit ini, para pengurus negara ini, sudah kita bekali dengan kekuasaan dan kemuliaan. Mereka tidak kurang memiliki hak-hak istimewa (privilege). Namun tampaknya masih belum cukup juga.

Politisi dalam berita ini berkilah, mereka memikirkan rakyat karena itu mereka harus diistimewakan. Dia sama sekali tidak sadar bahwa dia berpartisipasi membuat kebijakan yang membikin kita semua berada dalam situasi ini.

Imajinasi para gedibal ini, yang berpikir heroik bahwa mereka berjuang untuk rakyat ini, bukan hal yang baru. Mereka memandang dirinya sebagai pahlawan dan oleh karenanya selalu minta didahulukan.

Anda bisa lihat ini dimana saja. Mereka minta duluan di jalanan, bukan? Anda harus mengalah hanya agar mereka bisa lewat dengan nyaman.

Konsep negara kita bukan negara Sosialis. Bukan negara Kapitalis. Apalagi negara gotong royong. Konsep negara kita adalah negara ‘survival the fittest.’ Siapa kuat, dia menang. Ini konsep negara penaklukan (subjugation).

Baca Juga  PJU Polda Maluku Ikuti Vicon Hasil Seleksi Terpadu Sespati, Lemhanas dan PKN TK 1 T.A. 2020

Dan sebagaimana penaklukan dimana-mana, siapa yang membeayai keistimewaan para politisi ini? Ya, Anda-anda sekalian itu. Anda mengumpani kenyamanan mereka. Anda memberikan mereka kesehatan.

Mungkin Anda berpikir, ah tapi kan saya bayar pajak sedikit saja. Mungkin betul. Tapi Anda tidak pernah berpikir bahwa hutan-hutan yang habis mereka babat itu akan mempengaruhi hidup Anda dan anak-anak Anda di kemudian hari.

Bahwa hasil mereka mengangsir kekayaan negara ini akan berpengaruh pada pendidikan anak-anak Anda. Akan berakibat pada sistem kesehatan yang akan menjadi mahal karena negara tidak mampu mengalokasikan dana yang cukup untuk memberi Anda kesehatan.

Problem negara seperti ini bukan kemiskinan. Tapi akumulasi yang tidak terkendali dari orang-orang dengan kekuasaan tak terbatas ini.

Sekali lagi, mereka minta hak-hak istimewa karena mereka berjuang “memikirkan rakyat.” dan mereka pura-pura tidak tahu bahwa kita berada dalam situasi carut marut ini karena kebijakan mereka juga.

Disitulah pentingnya akuntabilitas — kita mereka bertanggungjawab atas apa yang terjadi. Kita gagal membuat para gedibal ini bertanggungjawab! (*)