Swasembada Rakyat (Pemerintah yang Jadi Problem)

oleh -280 views

“Lumayan, untuk nyawer penyanyi dangdut,” begitu pernah seorang petani cabai berkata di salah satu kanal media sosial yang pernah saya lihat. Sambil tertawa lebar ia bercerita bahwa penyanyi yang disawer itu naik mobil, sementara dia hanya naik Astrea lawas.

“Tapi ya nggak apa-apa. Itu hiburan,” katanya. Dan, begitulah ekonomi bekerja.

Menjadi petani tidak akan membuat Anda kaya. Harga panen yang bagus itu tidak dengan serta merta akan membuat Anda menjadi konglomerat. Hanya kalau Anda memiliki lahan yang luas, Anda bisa menjadi petani dengan taraf hidup kelas menengah — punya rumah tembok, ada mobil Agya, dan mungkin bisa nabung untuk naik haji atau umroh.

Baca Juga  DPRD Halbar Soroti LKPJ 2025, Rekomendasikan Perbaikan Setebal 25 Halaman

Pada umumnya, para petani itu subsisten. Atau, cukup sekedar bisa makan saja. Ini karena bertani di tanah sempit, dan harga komoditi pertanian yang selalu dibuat rendah supaya semua orang — khususnya yang miskin — juga bisa ikut makan. Dalam hal cabai, semua orang bisa memedaskan mulutnya sehingga selera makan nasinya bisa naik.

Di sekitar saya, tidak banyak orang hidup dengan menjadi petani saja. Sebagian besar mereka punya pekerjaan di luar sektor pertanian: dengan menjadi buruh bangunan atau di sektor lainnya.

Dan, sebagian besar mereka pekerja keras. Saya sering ketemu dengan buruh bangunan yang pulang kerja jam 4 sore, terus ngarit. Mereka memelihara kambing atau sapi. Kalau musim tanam, mereka berhenti kerja dan mengurus sawah.

No More Posts Available.

No more pages to load.