Takjil, Kampung Ramadan & Mata Uang Sosial

oleh -327 views

Oleh: Ikbal Buamona, Pemerhati Sosial

Sore tadi, sekitar 15.20 WIT, sambil ngabuburit di kampung Ramadan, saya mendapati perubahan di sekitaran jalanan Desa Fagudu, Kecamatan Sanana Kabupaten Kepulaun Sula, apa yang berubah?

Tentu pertanyaan ini akan muncul di benak kita semua. Secara kasat mata, belakangan ini, jalanan Desa Fagudu yang didesain menjadi Kampung Ramadan, secara estetik menunjukkan ada kreativitas yang tertera di setiap jalanan itu.

Mungkin setiap tahun ada kegiatan yang didesain oleh anak-anak muda Desa Fagudu, namun kegiatan pada Ramadan kali ini serasa agak berbeda dari biasanya, sedianya ada inovasi baru yang tumbuh dari evaluasi pada agenda-agenda Ramadan sebelumnya.

Secara sosiologis saya memahaminya sebagai upaya mempengaruhi orang dengan cara berbeda dari kebiasaan yang ada. Selain inovatif kampung Ramadan juga menjadi bagian penting jejaring sosial dari kelompok masyarakat terus terjahit dengan baik saat memburu takjil di bulan Ramadan ini. Kampung Ramadan adalah model rekonstruksi sosial yang kuat. Tidak hanya pada aspek jejaring sosial dan persaudaraan yang terjalin, kampung Ramadan juga memberikan pengaruh pada aspek ekonomi.

Baca Juga  Menghidupkan Pahlawan

Sesuai hasil presentasi teman-teman panitia bahwa setiap harinya takjil yang terjual bekisar puluhan juta rpuiah. Dengan nilai yang terbilang fantastis inilah, ibu-ibu Desa Fagudu bisa meraup keuntungan setiap harinya. Dari sini mengingatkan saya pada sebutan seorang jurnalis senior Maluku Utara Ashgar Saleh (Abang Ga) yang menyebutnya “Mata Uang Sosial”. Pada kampung Ramadhan ini keuntungan yang terus mengalir dari hasil jualan takjil itu saya menyebutnya sebagai mata uang sosial yang terus diproduksi dari aktifitas ekonomi saat Ramadan berlangsung.

No More Posts Available.

No more pages to load.