“Tambah usia, pasti tambah dewasa,” begitu kalimat yang ia ucapkan dengan rendah hati saat merayakan ulang tahunnya ke-66. Bagi Thaher, memimpin bukan sekadar menduduki jabatan, tapi menjaga kepercayaan, dan menjahit robekan-robekan sosial dengan benang budaya, adat, dan pendidikan.
Menghidupkan Kembali Warisan Leluhur
Di bawah kepemimpinannya, Kabupaten Maluku Tenggara tidak hanya bicara pembangunan infrastruktur, tetapi juga peradaban. Salah satu program unik yang ia gulirkan adalah penggunaan bahasa Kei setiap hari Jumat di lingkungan sekolah dan instansi pemerintahan. Lewat surat edaran resmi, ia menghidupkan kembali identitas yang lama tertidur.
“Bahasa adalah roh kebudayaan. Kalau kita hilangkan, kita akan kehilangan siapa kita,” tegasnya dalam sebuah forum budaya.
Thaher juga dikenal gigih dalam mendorong pemekaran wilayah Kei Besar, upaya yang menurutnya bukan semata urusan administratif, tapi bagian dari keadilan pembangunan dan pemerataan layanan publik.
Kepemimpinan yang Berakar pada Rakyat
Sejak awal masa jabatan keduanya di 2024, Thaher menyampaikan enam fokus utama yang menjadi fondasi arah pembangunan hingga 2029. Ketahanan pangan, pendidikan berbasis karakter, efisiensi anggaran, pelestarian adat, kesehatan dasar, dan kemandirian ekonomi lokal adalah pilar-pilar utamanya.











