Sembari menghitung hari menuju keberangkatan, aku berusaha menyimpan semua rencanaku itu, walaupun sesekali lidahku sangat tidak bersahabat untuk memberitahukannya kepadamu. Namun, saat malam sebelum kita akan berangkat ke pelabuhan Mahakam kau tidak seperti biasanya kau selalu tersenyum dengan senyuman yang sulit kuartikan. Kau juga mengucapkan kata cinta bahkan sangat cinta kepadaku berulang kali selepas kita menunaikan shalat Maghrib tadi, kau juga tidak ingin melepaskan genggaman tanganmu walaupun kita sedang berada di rumah, aku hanya bisa tersipu menyaksikan kemanjaanmu itu, besok aku akan membawamu menyaksikan matahari terbenam dan deburan ombak di sungai Mahakam, kau juga bisa berteriak sekencang mungkin jika kau ingin, kita juga akan menyaksikan film kesukaanmu lewat laptop kerjaku.
Kini waktunya pun tiba kini kita sudah berada di pelabuhan Mahakam, Hayati. Kau lihatlah semua itu sangat indah, bukan? Sinilah Hayati duduklah di sampingku, kita akan memulai menyaksikan film tenggelamnya kapal Van Der Wijck, film kesukaanmu dengan secangkir kopi namun kini bukan dengan kopi buatanmu melainkan dengan tetes air mata pertanda rinduku kepadamu yang kini sudah berbeda di alam yang berbeda. (*)











