Hagari mengatakan tidak ada lagi penjuang Hamas yang menerobos masuk dari Gaza. Kini para pemimpin Israel harus memutuskan apakah akan membatasi pembalasan untuk melindungi para sandera.
Pada Senin kemarin juru bicara Hamas Abu Ubaida mengancam akan membunuh satu tawanan Israel untuk setiap pengeboman Israel atas rumah warga sipil tanpa peringatan dan menyiarkan pembunuhan tersebut.
Serangan Hamas dan pembalasan Israel mengacaukan rencana para diplomat di Timur Tengah di saat genting ketika Israel hampir mencapai kesepakatan untuk menormalkan hubungan dengan negara terkaya di Arab, Arab Saudi.
Negara-negara Barat sangat mendukung Israel. Sementara digelar pawai pro-Palestina di negara-negara Arab dan mayoritas muslim. Iran salah satu pendukung Hamas, merayakan serangan-serangan tersebut, namun menyangkal berperan langsung di dalamnya.
Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei mengatakan Iran mencium tangan para perencana serangan tersebut, namun siapa pun yang percaya Iran berada di belakangnya adalah keliru. Ia mengatakan serangan mendadak Hamas menjadi pukulan bagi militer dan intelijen Israel.
Bentrokan mematikan di perbatasan utara Israel menimbulkan kekhawatiran akan adanya front kedua dalam perang. Gerakan Hizbullah di Lebanon yang juga didukung Iran ikut terseret ke dalam perang terbaru Hamas-Israel. Hizbullah mengatakan mereka tidak berada di balik setiap serangan ke Israel.









