Porostimur.com, Jakarta – Tokoh senior Maluku Engelina Pattiasina, mengkritik pemerintah yang dinilai belum maksimal mengantisipasi dampak krisis geopolitik global terhadap ketahanan energi nasional.
Ia menyoroti eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, yang berpotensi mengganggu jalur distribusi minyak dunia melalui Selat Hormuz.
Ketergantungan Impor Jadi Titik Lemah
Menurut Engelina, ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM membuat posisi negara menjadi rentan terhadap gejolak global.
Ia mempertanyakan praktik lama impor BBM Indonesia yang selama ini banyak melalui Singapura, yang dinilai bukan sebagai produsen minyak, melainkan hanya perantara atau broker.
“Selama puluhan tahun kita impor dari negara yang tidak memiliki sumber minyak. Ini menunjukkan ada persoalan dalam tata kelola migas kita,” ujarnya.
Ia menilai, skema impor berbasis broker di pasar spot telah menciptakan biaya tambahan yang membebani negara serta membuka ruang praktik rente (rent seeking).
Dorong Skema G2G dan Hilangkan Peran Broker
Engelina mendorong pemerintah untuk berani melakukan perubahan mendasar dengan beralih ke skema kontrak Government-to-Government (G2G) langsung dengan negara produsen minyak.
Menurutnya, langkah ini penting untuk:










