“Melalui pemantauan berkelanjutan pada dashboard Indeks Perkembangan Harga (IPH), tercatat bahwa harga bahan pokok mulai menurun karena ketersediaan stok yang memadai,” jelasnya.
Ia menambahkan, sebagian besar kebutuhan bahan pokok di Halmahera Selatan masih dipasok dari luar daerah, seperti dari Manado, sejumlah kabupaten tetangga, serta Surabaya.
Komoditas penting seperti beras premium, cabai merah keriting, cabai rawit merah, dan bawang merah disebut masih tersedia dalam jumlah cukup.
Untuk menjaga stabilitas harga pada 2026, TPID Halmahera Selatan akan menjalankan lima program utama, di antaranya pelaksanaan pasar murah sebanyak lima kali, pengembangan lahan produksi bawang merah bekerja sama dengan Bank Indonesia Perwakilan Maluku Utara, serta penguatan peran kelompok tani dalam menjaga ketersediaan komoditas hortikultura.
“Kesuksesan program ini sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor, terutama di tengah tuntutan efisiensi dan kerja terpadu,” tegas Bassam.
Lompatan Besar Digitalisasi Daerah
Selain pengendalian inflasi, pemerintah daerah juga menyoroti capaian signifikan dalam program digitalisasi melalui TP2DD.
Bassam mengungkapkan bahwa pada 2024 Halmahera Selatan berada di peringkat ke-56 dalam wilayah yang mencakup Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua. Namun pada 2025, daerah ini berhasil melonjak ke peringkat ke-4.










