Tragedi Yuvi Cileunyi

oleh -8 views

Tidak mengherankan jika kasus ini kemudian memicu kemarahan publik. Menteri, gubernur, anggota DPR, aktivis perempuan, organisasi kemanusiaan, hingga masyarakat biasa angkat bicara.

Polisi bergerak memburu Taufik Hidayat yang melarikan diri dan masuk daftar pencarian orang. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, bahkan mengumumkan hadiah Rp250 juta bagi siapa pun yang memberikan informasi akurat yang berujung pada penangkapan pelaku.

Pernyataan keras pun keluar. Bukan semata karena ada dugaan penyekapan, tetapi karena cara kekerasan itu dilakukan telah melampaui batas yang lazim dipahami masyarakat.

Namun kemarahan saja tidak cukup. Kasus ini juga memaksa kita mengajukan pertanyaan yang lebih tidak nyaman. Bagaimana seorang perempuan bisa hilang selama tiga tahun? Mengapa ancaman terhadap keluarga yang memviralkan pencarian korban tidak segera membuka tabir lebih awal? Mengapa penderitaan sepanjang itu bisa berlangsung tanpa terdeteksi lingkungan sekitar?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting bukan untuk menyalahkan siapa pun, melainkan untuk memahami bahwa kekerasan domestik dan kekerasan berbasis relasi sering kali berlangsung dalam ruang yang sangat tertutup.

Baca Juga  Perkuat Sinergi Penanganan Pertanahan, Kepala Kantah Malteng Kunjungi Kejari

Sosiolog Amerika, Erving Goffman, pernah menggambarkan bagaimana manusia memiliki “panggung depan” dan “panggung belakang”. Di panggung depan, seseorang bisa tampak biasa, ramah, bahkan religius. Tetapi di panggung belakang, bisa tersimpan perilaku yang sama sekali berbeda.

No More Posts Available.

No more pages to load.