Tragedi Yuvi Cileunyi

oleh -5 views

Banyak kasus kekerasan lahir dari ruang belakang itu. Tetangga tidak tahu. Kerabat tidak tahu. Bahkan korban sendiri terkadang kehilangan kemampuan untuk meminta pertolongan.

Ironinya, masyarakat kita sering lebih mudah mendeteksi pencurian motor daripada penyiksaan manusia. Jika motor hilang, seluruh kampung bergerak. Jika seseorang menangis di balik tembok rumah, kita sering menganggapnya urusan pribadi. Padahal, banyak tragedi kemanusiaan justru tumbuh subur karena budaya diam dan sikap “bukan urusan saya”.

Karena itu, pelajaran terbesar dari kasus Cileunyi bukan hanya soal penangkapan seorang buronan. Ia adalah pengingat bahwa cinta tidak pernah identik dengan kepemilikan.

Ketika seseorang merasa berhak mengontrol, mengurung, mengancam, dan menyakiti pasangannya, itu bukan cinta. Itu kekuasaan yang menyamar sebagai cinta. Dan kekuasaan yang tak terkendali selalu berakhir menjadi kekerasan.

Kini publik menunggu aparat menemukan Taufik Hidayat dan membawa kasus ini ke meja hijau. Keadilan hukum memang penting. Tetapi yang lebih penting adalah memastikan tidak ada lagi korban lain yang harus menghilang bertahun-tahun sebelum ditemukan.

Baca Juga  Perkuat Sinergi Penanganan Pertanahan, Kepala Kantah Malteng Kunjungi Kejari

Yang lebih penting, tiada lagi perempuan yang belajar meminta maaf atas luka yang dibuat orang lain. Sebab dalam masyarakat yang sehat, yang seharusnya meminta maaf bukanlah korban, melainkan mereka yang membiarkan penderitaan itu berlangsung terlalu lama.

No More Posts Available.

No more pages to load.