Ketiga, Fir’aun menuduh Musa sebagai kelompok hizbiy atau ekslusif yang membahayakan keutuhan negara. Demikian seperti firman-Nya inna hā’ulā’i lasyirmidzatun qalilun (إِنَّ هَؤُلَاءِ لَشِرْذِمَةٌ قَلِيلُونَ) “(Fir’aun berkata): “Sesungguhnya mereka (Bani Israel) benar-benar golongan kecil,”. (Rujuklah QS. AL-SYU’ARA’ [26]: 54).
Keempat, Fir’aun menuduh Musa sebagi pihak yang yang ingin merusak tatanan budaya, agama dan keyakinan hidup masyarakat yang sudah dianggap mapan dan berpotensi merusak kerukunan bangsa. Demikian seperti firman-Nya inni akhāfu an yubaddila dīnakum (إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُبَدِّلَ دِينَكُمْ) “..karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu”. (Rujuklah QS. GHAFIR [40]: 26).
Kelima, Fir’aun menuduh Musa sebagai sumber kerusakan dalam kehidupan bermasayakat dan sebagai biang perpecahan di negara. Demikian seperti firman-Nya au an yuzhhira fi al-ardh al-fasād (أَوْ أَنْ يُظْهِرَ فِي الْأَرْضِ الْفَسَادَ) “atau dia menimbulkan kerusakan di muka bumi”.”. (Rujuklah QS. GHAFIR [40]: 26).
Pesannya, zaman boleh berganti, musim boleh berubah, namun alur cerita kehidupan boleh jadi akan hadir dalam format yang sama dengan lakon dan tokoh yang Wallahu alam. (*)




