Tuhan, Aku Lapar

oleh -116 views

Oleh: Okky Madasari, Sastrawan, kandidat PhD National University of Singapore

Di Tangerang Selatan, grafiti Tuhan Aku Lapar dihapus aparat. Pembuatnya didatangi polisi. Di Pasuruan, mural bergambar dua kartun dengan tulisan Dipaksa Sehat di Negara yang Sakit dihapus satpol PP. Yang terbaru, mural Wabah Kelaparan di Tangerang lagi-lagi dihapus petugas. Apakah lapar dan sambat sudah dilarang di negeri ini?

Jika mural curahan hati saja langsung mendapat reaksi seperti itu, bisa dibayangkan apa yang terjadi ketika muralnya mengkritik langsung pejabat negara. Pembuat mural bergambar wajah Presiden Jokowi dengan mata tertutup tulisan 404: Not Found diburu polisi karena dianggap menghina simbol negara. Ketika si pembuat mural belum tertangkap, polisi menangkap tukang sablon yang menjadikan gambar mural itu sebagai gambar kaus. Si tukang sablon dibawa ke kantor polisi, dipaksa minta maaf sambil direkam, lalu videonya disebar ke seluruh Indonesia.

Grafiti, mural, seni jalanan bukanlah hal baru dalam sejarah Indonesia dan sejarah dunia. Coretan dan gambar di dinding-dinding kota merupakan bagian dari penanda pergerakan zaman, rekaman kegelisahan dan kegeraman masyarakat, sekaligus catatan atas harapan dan perubahan.