Pamer Kekuasaan
Perkara mural ini seseungguhnya hanya bukti terbaru saja dari catatan ancaman kebebasan berekspresi pada periode kedua pemerintahan Presiden Jokowi. Penyalahgunaan Undang-Undang ITE, patroli polisi siber, pencidukan aktivis dan mereka yang dicurigai mendalangi demonstrasi, hingga represi pada mahasiswa yang mengkritik pemerintah adalah rangkaian sikap antikritik dari otoritas selama periode ini.
Pemerintahan periode kedua yang semestinya dijalankan dengan sepenuh hati menghargai prinsip demokrasi –karena katanya sudah tak ada beban lagi– justru dijalankan dengan ugal-ugalan, pamer kekuasaan di sana-sini. Anggota polisi tanpa ragu petentang-petenteng di linimasa, mengancam semua orang dengan berkata, ”We keep eyes on you.” Kami memata-mataimu. Atau, kalau dalam bahasa George Orwell, ”Big Brother is watching you.”
Bukan hanya polisi dan aparat berseragam yang pamer kekuasaan. Di tingkat universitas, rektor memanggil mahasiswa yang mengkritik pemerintah. Di ranah publik, staf khusus kementerian mencari-cari alasan untuk menyetujui pemberangusan dan pendukung pemerintah dengan mudah menuduh suara kritik sebagai bagian dari upaya menggulingkan pemerintahan.
Tuhan Aku Lapar, Dipaksa Sehat di Negara yang Sakit, dan Wabah Kelaparan adalah cerminan dari apa yang dirasakan rakyat selama 1,5 tahun pandemi. Ketika rakyat sudah mengutarakan rasa lapar kepada Tuhan, pemerintah perlu segera mengevaluasi kebijakannya. Ketika rakyat mengadu kelaparan, negara seharusnya segera memberi makan, bukan malah membungkam. (*)




