Dalam sejarah nusantara, Maluku Utara khususnya Ternate dan Tidore menjadi jalur perdagangan rempah yang cukup masyhur pada abad ke-15. Peneliti Kosmopolis Rempah UGM, Dr. Sri Margana, menjelaskan perdagangan rempah di Maluku dimulai dengan kedatangan para pedagang China yang kemudian mengenalkan rempah ke wilayah Mediterania. Berawal dari hal itu menjadikan sejumlah pedagang dari Eropa mulai berdatangan ke Maluku Utara dan membeli rempah langsung dari warga.
Margana mengatakan rempah saat itu lebih mahal dibandingkan dengan emas. Rempah menjadi objek perburuan bagi bangsa Eropa kala itu. Bukan hanya untuk memenuhi hasrat lidah dan gaya hidup orang Eropa, rempah juga menjadi simbol strata kebangsawanaan mereka di masa itu. Rempah yang tersaji di meja makan dipakai untuk menunjukkan status sosial atau tingkat kebangsawanan mereka.
“Potensi rempah di Maluku Utara cukup besar, namun memang tidak lagi seperti dulu,” jelasnya.
Margana mengatakan budi daya rempah termasuk pala di Maluku Utara tidak lagi dikelola seperti dulu. Dahulu pala dibudidayakan oleh perusahaan-perusahaan besar. Sementara saat ini pala dibudidayakan oleh orang per orang di masyarakat.
“Budi daya rempah di Maluku sudah tidak dikelola seperti sebelumnya oleh company. Saat ini hanya memelihara dari warisan saja dan tidak ada penanaman kembali,” paparnya.




