Ia menguraikan sejumlah persoalan yang masih menjadi tantangan masyarakat MBD, mulai dari jarak antarpulau, keterbatasan transportasi, konektivitas digital, akses pendidikan dan kesehatan hingga infrastruktur dasar.
Dalam kondisi geografis kepulauan seperti MBD, persoalan konektivitas menjadi sangat menentukan. Jarak tidak hanya berpengaruh terhadap mobilitas masyarakat, tetapi juga menentukan cepat atau lambatnya akses terhadap pelayanan publik dan kegiatan ekonomi.
Karena itu, pembangunan infrastruktur dan konektivitas antarpulau dinilai perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia serta pengembangan ekonomi berbasis kelautan.
Lessy juga menyinggung kondisi Maluku secara umum yang masih menghadapi tantangan kemiskinan, keterbatasan infrastruktur, serta ketimpangan akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan.
Menurutnya, pembangunan tidak cukup hanya diukur melalui angka pertumbuhan ekonomi.
“Pembangunan tidak boleh berhenti pada angka. Ia harus menyentuh kehidupan,” katanya.
Dari Kepulauan Terlupakan Menjadi Beranda Indonesia
Dalam sambutannya, Lessy menempatkan pembangunan MBD dalam konteks yang lebih luas. Daerah kepulauan tersebut, menurut dia, memiliki kekayaan alam dan budaya yang dapat menjadi modal pembangunan apabila ditopang konektivitas serta kebijakan pembangunan yang tepat.









