Oleh: Hamid Basyaib, Aktivis dan Mantan Wartawan
Dipandang sebagai salah satu sastrawan terbesar Prancis, Victor Hugo (1802-85) juga dikenal sebagai pejuang keadilan sosial. Karya termashurnya, “Les Misérables,” menggambarkan penderitaan kaum tertindas dan perjuangan manusia untuk memperoleh keadilan dan pengampunan. Sampai sekarang karya besar ini terus diadaptasi menjadi film, drama panggung dan pertunjukan musikal.
Ia gigih menentang tirani dan memperjuangkan hak asasi manusia. Ia menentang Napoleon III, dan diasingkan selama hampir dua dekade. Namun ia kemudian mendapat pengakuan resmi dari pemerintah Prancis. Ia dimakamkan dengan upacara kenegaraan, dan dilayat oleh dua juta orang.
Warisannya tidak hanya hidup dalam kesastraan, tetapi juga dalam semangat perjuangan untuk kebebasan dan keadilan. Dalam sebuah esainya tentang masa tua, ia menulis:
“Kau mulai menua,” kata mereka kepadaku. Kujawab: “Tidak. Aku bukan sedang menua. Aku sedang menjadi bijaksana.”
Aku berhenti menjadi apa yang menyenangkan orang lain demi menjadi diriku yang sejati. Aku berhenti mencari penerimaan orang lain agar bisa menerima diriku sendiri. Aku meninggalkan cermin-cermin palsu yang berdusta tanpa ampun.
Tidak, aku bukan sedang menua. Aku menjadi lebih tegas, lebih selektif terhadap tempat, terhadap orang, terhadap kebiasaan, dan ideologi.










