Menanggapi situasi tersebut, Obama menyatakan bahwa fenomena yang terjadi saat ini menyerupai “pertunjukan badut” yang kerap muncul di media sosial dan televisi.
“Penting untuk disadari bahwa mayoritas rakyat Amerika menganggap perilaku seperti ini sangat mengganggu,” ujar Obama, dikutip dari BBC, Minggu (15/2/2026).
Hilangnya Rasa Malu dalam Politik
Obama menyoroti bahwa di masa lalu para pejabat publik merasa terikat oleh norma etika dan rasa hormat terhadap institusi negara. Namun, menurutnya, standar tersebut kini seolah telah memudar.
Ia menilai tindakan provokatif semacam itu memang mampu mencuri perhatian publik, tetapi pada akhirnya hanya berfungsi sebagai pengalih dari isu-isu substansial yang jauh lebih penting bagi masyarakat.
Dalam wawancara tersebut, Obama juga menyinggung hilangnya rasa malu sebagai kompas moral bagi politisi.
“Dulu ada rasa kepatutan dan penghormatan terhadap jabatan yang membuat seseorang tidak akan melakukan tindakan serendah itu. Hal itu kini telah hilang,” tuturnya dengan nada prihatin.
Gedung Putih Klarifikasi
Di sisi lain, pihak Gedung Putih sempat membela unggahan tersebut dengan menyebut kemarahan publik sebagai “kemarahan palsu”. Namun video itu akhirnya dihapus dengan alasan kesalahan staf.
Trump sendiri mengatakan kepada wartawan bahwa ia tidak melihat bagian video yang menampilkan keluarga Obama dan menyatakan tidak memiliki rencana untuk meminta maaf.










