Dorongan pun juga diberikan lima fraksi MPR RI saat itu. Harian Kompas mencatat pimpinan 5 fraksi MPR RI sowan ke Cendana pada 8 Maret 1998, pada saat sidang berjalan di MPR.
Pada pertemuan sekitar dua jam itu, perwakilan Fraksi Persatuan Pembangunan (F-PP), Fraksi Karya Pembangunan (F-KP), Fraksi Partai Demokrasi Indonesia (F-PDI), Fraksi Utusan Daerah (F-UD), dan Fraksi ABRI (F-ABRI) bergantian menghadap Soeharto. Mereka bersuara bulat: meminta Soeharto untuk bersedia dicalonkan lagi.
Setelah pertemuan itu, Soeharto pun memutuskan untuk maju sekali lagi. Pak Harto memegang prinsip tinggal glanggang colong playu, tidak mengelak dari kepercayaan rakyat demi kepentingan negara dan bangsa.
Pada 1998, Soeharto pun kembali mencalonkan diri. MPR kembali memilih “The Smiling General” sebagai presiden pada 10 Maret. Dia pun dilantik pada hari berikutnya.
Meski begitu, periode baru kepemimpinan Soeharto tak berlangsung lama. Sekitar 70 hari setelah dilantik, Soeharto lengser dari jabatan presiden. Dia mengundurkan diri usai pengunduran diri para menteri dan demonstrasi besar-besaran.
Yang paling menyakitkan bagi Soeharto mungkin adalah sikap anak emasnya, Harmoko. Pria yang membujuknya mencalonkan diri menjadi sosok yang paling keras memintanya turun dari jabatan.










