27 Juli

oleh -264 views

Oleh: Made Supriatma, Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapore

Tanggal 27 Juli 1996 adalah tragedi. Baik saat kejadian penyerbuan kantor DPP PDI di Jl. Diponegoro, Jakarta, maupun sesudahnya. Bukan sesudah beberapa jam atau hari. Tragedi itu terus berlangsung hingga saat ini.

Beberapa orang hilang atau kehilangan nyawa saat penyerbuan itu terjadi. 27 Juli kemudian disusul dengan penculikan-penculikan para aktivis. Kelihatan bahwa rejim Suharto saat itu telah goyah. Para elit — militer maupun sipil — mulai cari payung selamat.

Namun ada diantara mereka yang merasa bahwa Suharto dan rejimnya perlu selamatkan karena hanya dengan cara demikian mereka bisa mendapat “warisan” kekuasaan. Mereka pun bergerak dan bertaruh dengan cara apapun bahwa rejim yang rapuh ini harus tetap berdiri tegak.

Apapun mereka lakukan termasuk melakukan kekerasan. Jika rejim ini tidak tegak, maka mereka akan kehilangan kesempatan berkuasa. Mereka adalah sebuah klik yang tidak jauh-jauh amat dari Suharto dan bahkan menjadi bagian keluarganya.

Baca Juga  DPRD Maluku Dorong Ajang Tinju Profesional Jadi Wadah Lahirkan Atlet Berprestasi

Sementara, para elit lain merasa bahwa rejim ini akan rontok. Mereka mempersiapkan payung untuk menyelamatkan diri. Mereka mulia melirik kekuatan-kekuatan oposisi. Beraliansi dengan kekuatan-kekuatan demokratik yang selama beberapa dekade mereka injak, tekan, dan hinakan sebagai kaum pariah. Dengan kata lain, mereka berkhianat terhadap rejim yang selama ini memberi mereka kekuasaan dan kekayaan.

No More Posts Available.

No more pages to load.