10 November 2021

oleh -37 views
Link Banner

Oleh: Syaiful Bahri Ruray, Politisi dan Akademisi

Setiap 10 November, bangsa ini merayakan Hari Pahlawan, sebagai sebuah sikap dan bentuk penghargaan atas jasa dan bakti para pahlawan bangsa, yang rela menukar airmata, darah, bahkan nyawanya, demi harkat dan martabat bangsa ini.

Mereka bertarung, tanpa mengharap balas jasa, tanpa memandang asal usul dan kasta..semua berdiri menegakkan harga diri, meraih sepotong frasa, kemerdekaan.

Frasa merdeka ini, sepotong kata yang demikian mahal dalam sejarah peradaban manusia..
Maluku Utara pun mencatat nama putra2 terbaiknya, demi meraih frasa tersebut. Tercatat sejak lima abad silam, negeri ini, mencatat pertempuran paling berdarah, melawan imperialisme awal di nusantara.

Baabullah Datuk Syah, mengepung Nuestra Senhora del Rosario, hingga 5 tahun. Mencatat kisah awal, bangsa Eropa bertekuk lutut, terusir dari Nusantara. Lalu, dari manakah komitment perjuangan dan kepahlawanan itu terlahir?

Baca Juga  Pemuda Muhammadiyah Minta Polres Kepulauan Sula Seriusi Kasus Pencurian Laptop & Proyektor Milik Diknas Sula

Ia melalui sebuah proses panjang, pembentukan karakter sang pejuang, ada dua dimensi yang menyatu dalam satu diri sang pahlawan. Dalil Tifa dan Dalil Moro, dua dimensi yang melekat dari satu diri yang disebut Doro Bololo tersebut.

Satunya bermakna eskatologis, satunya lagi bermakna sosiologis. Manusia adalah makhluk profetik dan sekaligus makhluk sosial. Adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan, dalam hakikat kedirian seorang manusia. Itulah yang membentuk seseorang menjadi pejuang, rela maju digaris terdepan, memimpin, menggerakkan manusia-manusi lainnya, untuk menuju satu cita, yang diperjuangan dengan segenap jiwa raganya. Merebut harkat dan martabat, mencapai MERDEKA.

Substansi dan hakikat perjuangan seorang pejuang, adalah nilai suci, mission sacree, yang diperjuangkannya, dan mission itu melampaui sang zaman, bahkan melampaui dirinya sendiri.

Baca Juga  AP I Pastikan Status Bandara Pattimura Masih Sebagai Bandara Internasional

Itulah Baabulah, sebuah sosok awal peletak kemenangan perjuangan Nusantara, melawan penjajahan atas manusia lainnya, karena tak rela kehadiran bangsa asing di nusantara, yang merendahkan martabat anak negerinya.

Dari manakah keberanian itu muncul (?) Adalah maqom pemahamannya tentang Dalil Tifa dan Dalil Moro, sebagai penggerak keyakinan kolektif atas mission sacree yang diyakini secara haqqul yakin. Bahkan disitulah makna kemanusiaan sejati sang pejuang terletak.

Mereka bisa saja terluka di ujung bajonet musuh, bahkan tak terbilang yang tewas diujung desingan peluru musuh. Namun hakikat kejuangan mereka, telah menjadikan bangsa ini tetap ada, tegak dalam harga diri yang bermartabat.

Makanya terhadap mereka yang syahid, di medan juang, diperlakukan khusus, sebagai pertanda kehormatan dan kemuliaan. Bahwa mereka, para pejuang adalah sosok sejatinya seorang manusia. Karena tanpa mereka, kita ini, hanyalah sosok2 budak tanpa harga diri, karena berada dibawah kaki kaum penjajah, dan hidup dalam kehinaan, karena kehilangan martabat.

Baca Juga  Jelang Idul Fitri Polres Sula Gelar FGD Operasi Ketupat Keiraha

Hari Pahlawan, adalah momentum, untuk melestarikan nilai, melestarikan mission sacree para pejuang. Hari tersebut bukan sekedar sebuah seremonial kosong tanpa maknawi..The struggle of man against power is the struggle of memory against forgetting, ungkap penyair Milan Kundera.

[Dikaki Gamalama, November 2021]

No More Posts Available.

No more pages to load.