Artinya, menjadikan sampah sebagai sumber energi dalam skala besar belum dapat diterapkan apabila hanya mengandalkan volume sampah yang dihasilkan Kota Ambon saat ini.
Persoalan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah di Ambon tidak lagi sekadar persoalan mengangkut sampah dari permukiman menuju tempat pembuangan.
Dibutuhkan teknologi, infrastruktur, pembiayaan, sistem pengelolaan yang terintegrasi, serta perubahan perilaku masyarakat dalam mengurangi dan memilah sampah sejak dari sumbernya.
“Untuk sampah, produksi kita saat ini sekitar 300 ton per hari. Angka ini memang belum memenuhi skala yang dibutuhkan untuk waste-to-energy, tetapi kita terus melakukan kolaborasi dalam penanganan sampah, termasuk sampah maritim,” ujar Wattimena.
Persoalan menjadi semakin kompleks karena Ambon merupakan kota kepulauan. Sampah yang tidak tertangani berpotensi berakhir di kawasan pesisir hingga laut.
Karena itu, Pemkot Ambon menyatakan akan terus membuka kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk organisasi nonpemerintah, untuk menangani sampah darat maupun sampah maritim.
Dari Energi Bersih hingga Beasiswa Aparatur
Kerja sama dengan Selandia Baru tidak hanya diarahkan pada pencarian solusi teknologi energi terbarukan.
Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia, Phillip Taula, juga menawarkan penguatan kapasitas aparatur pemerintah daerah melalui program pendidikan.









