2. Terlihat sangat terobsesi dengan status

Pexels.com/Tim Douglas
Bukannya fokus berinvestasi untuk masa depan atau pengembangan diri, orang yang fake justru sangat terobsesi dengan gengsi dan pengakuan dari luar. Mereka rela memaksakan gaya hidup mewah yang sebenarnya di luar kapasitas keuangan mereka.
Demi dianggap sukses atau berkelas, mereka nggak ragu mengeluarkan uang berlebih untuk membeli barang bermerek atau sengaja mendekati orang-orang yang punya posisi lebih tinggi alias pansos. Saat berkumpul, mereka juga hobi pamer hanya untuk demi dinilai hebat oleh orang lain.
3. Suka pencitraan

Pexels.com/Ilyasick Photo
Orang yang fake sangat terobsesi untuk selalu terlihat sempurna, baik dari segi penampilan fisik maupun citra sosial. Di media sosial atau lingkungan baru, mereka akan berakting sebagai sosok yang paling empati, baik, dan peduli sesama.
Padahal, semua itu dilakukan hanya demi mendapat pujian. Tipe seperti ini biasanya menjadi “teman palsu” yang sifatnya bisa mendadak berubah atau cuek saat ada orang lain yang dianggapnya lebih menguntungkan. Mereka juga nggak segan membatalkan janji secara sepihak jika ada pilihan lain yang dirasa lebih seru atau menguntungkan posisi mereka.
4. Ingin disukai semua orang

Pexels.com/Gustavo Fring
Di balik sikapnya yang terkadang terlihat sangat percaya diri atau bahkan angkuh, mayoritas orang fake sebenarnya krisis percaya diri. Mereka sangat butuh validasi dan persetujuan dari orang lain agar merasa berharga.










