Porostimur.com, Ambon – Selama puluhan tahun, ela sagu atau ampas sagu hanya dipandang sebagai limbah yang mencemari lingkungan. Setelah pati sagu diperas, ribuan ton ampas dibuang ke sungai, hutan, atau dibiarkan membusuk tanpa nilai ekonomi. Namun di tangan para peneliti Politeknik Negeri Ambon (Polnam), limbah tersebut justru bertransformasi menjadi material ramah lingkungan yang berpotensi digunakan pada industri minyak dan gas dunia.
Inovasi ini membuka harapan baru bahwa salah satu kekayaan hayati khas Maluku tidak hanya menjadi sumber pangan masyarakat, tetapi juga dapat menjadi bagian dari pengembangan teknologi energi berkelanjutan.
Melalui penelitian yang dilakukan Jurusan Teknik Mesin Polnam, ela sagu berhasil direkayasa menjadi bahan aditif (additive material) untuk lumpur pemboran (drilling mud), fluida penting yang digunakan dalam proses pengeboran sumur minyak dan gas.
Teknologi Hijau dari Serat Sagu
Dalam industri migas, lumpur pemboran memiliki fungsi vital. Fluida tersebut berperan menjaga kestabilan dinding sumur, mengangkat serpihan batuan hasil pengeboran, mendinginkan mata bor, hingga mencegah terjadinya kebocoran fluida ke dalam lapisan batuan.
Selama ini, sebagian besar bahan pengatur sifat lumpur pemboran masih bergantung pada material kimia sintetis yang sebagian besar diimpor dan memiliki dampak lingkungan.









