Oleh: Made Supriatma, Peneliti, jurnalis lepas dan visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapura
Kita mulai dari Jason Arday, seorang profesor Sosiologi dari Universitas Cambridge. Dia adalah profesor termuda yang pernah diangkat oleh Cambridge. Tidak itu saja. Dia berkulit hitam.
Kalau Anda paham dalam sistem rasial di negara seperti Inggris atau Amerika Serikat, Anda pasti tahu bahwa cerita jalan hidup Jason Arday itu seperti kisah keajaiban. Bocah dari daerah kumuh di bagian selatan London bisa menjadi profesor di Universitas Cambridge!
Cerita ini bisa jadi inspiratif. Ia bisa menjadi cerita motivator: Anda bisa menjadi apapun di dunia ini asal kerja keras. Asal punya semangat, ya semangat untuk jadi pemenang!
Ia juga bisa menjadi proyek percontohan di universitas semacam Cambridge, institusi elit yang mahasiswanya sebagaian besar dari lapisan elit juga. Jason Arday menjadi semacam ‘examplar’ untuk Cambridge. Juga dijadikan proyek emansipasi: bahwa Cambridge terbuka untuk siapa saja yang pintar dan pekerja keras.
Hanya saja, cerita bocah ajaib ini kemudian berbalik. Orang mulai menyelidiki tulisan-tulisan Jason Arday. Mereka mendapati bahwa dia melakukan plagiarisme di beberapa bagian disertasinya. Dia juga mengarang sejumlah data risetnya. Dan, anak ajaib kesayangan Cambridge ini jatuh.









