100 Dollar Cendekiawan Alim

oleh -44 views

Oleh: Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta

“Anies, daripada kamu sendirian, bayar sewa, udah pindah aja ke sini; di atas ada kamar. Selalu kosong kok,” begitu kata Pak Yahya Muhaimin.

SAYA sedang menulis makalah pagi itu, saat Pak Yahya menelpon, meminta saya pindah dari apartemen dekat kampus University of Maryland ke rumah beliau sbg Atase Pendidikan di Washington DC. Beberapa kali beliau mengulang, sampai akhirnya saya pindah dan tinggal di lantai atas rumahnya di kawasan elit di Bethesda, Maryland.

Setelah tinggal di rumahnya, kami diskusi hampir tiap malam. Sampai lulus program Master, dan saat akan meninggalkan Washington pun berangkatnya dari rumah Pak Yahya. Belajar banyak dari seorang cendikiawan yang amat baik hati itu.

**

Baca Juga  Kosgoro 1957 Maluku Dukung Sari Yuliati di Munas 2026 Jakarta

Suatu sore, tiba di apartement setelah dari kampus, terlihat sebuah amplop ada di kotak surat. Tertulis nama pengirimnya Yahya Muhaimin. Saat dibuka, hanya berisi selembar uang 100 dollar yang dimasukan dalam lipatan kertas HVS polos putih. Tidak ada tulisan apapun. Hanya selembar uang.

Saat itu saya sudah mahasiswa program doktor di Illinois. Sudah pindah dari rumah beliau yang di Maryland. Jaraknya lebih dari 1,100 km. Langsung masuk apartemen dan telepon Pak Yahya. Beliau tertawa sambil bilang, “Saya kemarin ingat kamu, mungkin kamu lagi susah ya. Kuliah doktor itu berat apalagi kalau udah ada anak, selalu kekurangan biaya. Dulu waktu saya kuliah juga gitu.” Itu bukan cuma sekali tapi berkali-kali. Tiap beberapa waktu Beliau selalu kirim amplop tanpa kata, berisi selembar uang 100 dolar. Uang itu bagi kami yang bea-siswanya sangat pas-pasan, terasa luar biasa bernilai.