Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis
Pagi itu, Jakarta seperti baru saja ditaburi tepung yang salah resep. Mobil menjadi kusam, lantai halte berdebu, dan kaca jendela menyimpan lapisan tipis berwarna kelabu. Orang-orang menengadah, sebagian mencari awan, sebagian mencari jawaban.
Di layar telepon genggam, gambar yang sama berpindah dari satu grup WhatsApp ke grup lain: lapisan debu di permukaan kendaraan, atap rumah, jalan raya, juga wajah warga yang mulai mengenakan masker. Bedanya dengan hujan biasa, kali ini yang jatuh dari langit adalah abu.
Seperti lazimnya peristiwa tak biasa, yang ikut turun bukan hanya partikel vulkanik, melainkan juga rentetan nasihat, peringatan, klarifikasi, instruksi, video pendek, komentar, lelucon, kepanikan, hingga artikulasi politik.
Pekan ini hampir semua lembaga seolah memegang mikrofon yang sama. Kementerian Kesehatan, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Perhubungan, BMKG, Badan Geologi, BNPB, pemerintah daerah, dokter, pakar, hingga warganet beramai-ramai angkat bicara.
Saya tak memiliki statistik volume pernyataan mereka. Tapi dari percakapan publik yang mengiringinya, satu hal cukup jelas: banyaknya suara tidak otomatis menghasilkan pengetahuan yang lebih jernih.










