Akhir Yang Menyesatkan

Peilis: M Rizal Fadillah, Pemerhati Politik 

Akhir masa jabatan Jokowi penuh dengan fenomena kabur, menjilat, dan menyesatkan. Seolah-olah terjadi perlombaan dari gerakan “mumpungisme” di momen ujung periode.

Target beragam. Ada yang berharap “apa yang bisa didapat” dan ada pula yang berinvestasi untuk memanjangkan jabatan. Adapula yang mencari aman dan perlindungan.

Diawali Menkominfo yang menawarkan bisnis umroh dengan menggaet dua unicorn. Traveloka dan Tokopedia jadi perusahaan swasta dipromosikan dalam MoU dengan Pemerintah Arab Saudi.

Rakyat merasa ini adalah proposal, siapa tahu terpakai sebagai modal perpanjangan jabatan. Menteri Keuangan menunjukkan prestasi “menjilat” dengan menaikan tarif BPJS bersanksi sadis kepada penunggak.

Menteri Tenaga Kerja membuat Kepmenaker untuk membuka keran masuk seluas luasnya bagi tenaga kerja asing (Cina). Mendag bisa jualan Esemka “impor” sebagai produk kebanggaan Presiden. Walau sebenarnya harus memanipulasi produk.

Ilistrasi: Solo Pos

Nah Presiden pun mengajukan proposal pemindahan ibukota untuk investasi jor-joran kelak. Konon untuk perpanjangan masa jabatan yang diusulkan hingga 8 tahun. Hal ini bisa dikaitkan dengan rencana pembangunan ibukota yang tentu memakan waktu.

DPR tak ketinggalan. Di akhir periode memaksakan membahas RUU Pertanahan yang dicurigai untuk memfasilitasi ibukota baru. Kemudian bekerja keras menunjukkan prestasi membuat UU “pembunuhan” KPK.

RUU P-KS juga dinilai sebagai modus penyesatan untuk melindungi zina dan LGBT. RUU KUHP yang juga ditarget cepat selesai karena mengandung delik “tendensius” Penghinaan Presiden. Masyarakat membaca delik ini dimaksudkan untuk membungkam kritik.

Sesungguhnya semua kebijakan itu tidak menguntungkan rakyat. Sebab yang terasa justru menyesakkan napas. Ini yang disebut akhir yang buruk (su’ul khotimah).

Di akhir jabatan itu seharusnya membuat gebrakan yang membahagiakan “happy ending”. Tapi begitulah jika memang orientasinya bukan pada kepentingan rakyat. Melainkan kepentingan diri, instansi, dan golongan maka sudah pasti urusan kegembiraan rakyat akan dikesampingkan. Tak peduli pada kesulitan dan penderitaan rakyat.

Jika akhir dari perjalanan itu menyesatkan, maka agar tak tambah tersesat baiknya akhiri saja perjalanan. Ada mekanisme untuk itu. Kita berkonsesus untuk meluruskan kembali arah perjalanan bangsa.

Pancasila dan UUD 1945 menjadi landasan bagi pelurusan kembali arah perjalanan bangsa tersebut. [***]

Sumber: Kantor Berita Politik RMOL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: