Kehadiran tambang beserta industri smelter di Maluku Utara yang masif belakangan ini lanjut dia dibayar sangat mahal karena mempertaruhkan nasib anak cucu Maluku Utara ke depan karena daya rusak lingkungan luar biasa yang diakibatkan. Salah satu contoh penambangan di sebagian kawasan Halmahera Timur diduga telah merusak pesisir hingga biota laut di Teluk Buli akibat sedimentasi.
“Ini baru contoh kecil saja tetapi sesungguhnya ancaman keberlanjutan lingkungan hidup dan ruang sosial masyarakat tengah jadi pertaruhan serius saat ini. Kami ingin memastikan agar sekali lagi jangan rakus untuk mencari keuntungan semata tetapi lupa aspek lain. Daerah ini kaya rempah dan potensi laut, tetapi semua itu seakan sirnah karena semua tersilaukan karena tambang yang sebenarnya itu juga sejahtera untuk siapa karena kami masyarakat masih saja hidup miskin,” tegas Albert.
Dia menyampaikan berdasarkan data Badan Pusat Statistik Maluku Utara pada triwulan II-20 pertumbuhan ekonomi daerah mencapai 23,89 persen. Hampir lima kali lipat dari rerata pertumbuhan ekonomi nasional. Dan pertumbuhan usaha ekstraktif nikel yang berpusat di tiga wilayah, yakni Halmahera Tengah, Halmahera Timur, dan Halmahera Selatan memberi kontribusi besar pada capaian tersebut. Selain itu juga pertambangan emas di Halmahera Barat dan Halmahera Utara.




