Porostimur.com, Ambon — Aliansi Pemuda Saparua menyerukan agar perjuangan pembentukan Kota Kepulauan Lease dijalankan secara inklusif, partisipatif, dan transparan. Pernyataan sikap itu disampaikan dalam konferensi pers yang digelar di sekitar Jalan Dr. J. Leimena, Poka, Ambon, Sabtu malam.
Lima Poin Utama Aliansi Pemuda Saparua
Aliansi ini terdiri dari pemuda-pemudi dari dua kecamatan, Saparua dan Saparua Timur, yang menyoroti kurangnya pelibatan publik dalam proses pemekaran wilayah Lease. Dalam pernyataannya, mereka menegaskan lima poin sikap utama:
- Transparansi informasi: Tim Pemekaran Lease diminta membuka progres kerja dan dokumen pendukung secara luas.
- Pelibatan seluruh masyarakat: Termasuk tokoh adat, tokoh agama, perempuan, dan pemuda.
- Dialog berkelanjutan: Mengadakan komunikasi terbuka antara tim pemekaran dan masyarakat di tiga pulau—Saparua, Haruku, dan Nusalaut.
- Semangat persaudaraan: Memastikan perjuangan tidak menimbulkan perpecahan di kalangan masyarakat Lease.
- Orientasi pada kesejahteraan rakyat: Hasil pemekaran harus menitikberatkan pada pemerataan pembangunan.
Peran Pemuda dan Perempuan dalam Perjuangan
Pelmy Paunno dan Shanty Manuhutu dari Negeri Haria menekankan pentingnya keterlibatan aktif pemuda dan perempuan.
“Pemuda dan perempuan Lease bukan hanya pelengkap, tetapi bagian penting dari kekuatan sosial yang harus terlibat aktif dalam setiap proses perjuangan. Masa depan wilayah ini tidak bisa dibangun tanpa keterlibatan semua pihak,” ujar mereka.
Sementara itu, Christian Tetelepta dari Porto menekankan tanggung jawab moral pemuda untuk menjaga kemurnian perjuangan dari kepentingan politik jangka pendek.
Transparansi dan Manfaat Nyata bagi Masyarakat
Hasbi Chaidir Sanaky dari Negeri Siri Sori Islam menekankan pentingnya keterbukaan informasi: “Transparansi adalah kunci kepercayaan publik. Tanpa keterbukaan, perjuangan ini akan kehilangan legitimasi di mata masyarakat.”









