Namun potensi tersebut belum sepenuhnya memberikan dampak ekonomi karena terbentur persoalan klasik wilayah kepulauan: akses transportasi laut.
Hingga kini, kapal perintis belum melayani secara rutin kawasan Wetar Selatan, khususnya Masapun, Mahuan, Ilputih dan Tomliapat.
Kondisi itu membuat masyarakat kesulitan membawa hasil produksi keluar desa untuk dipasarkan. Sebaliknya, warga juga menghadapi kendala ketika harus mendatangkan kebutuhan pokok maupun berbagai kebutuhan lainnya dari luar wilayah.
Bagi masyarakat, persoalan tersebut bukan sekadar soal sulitnya bepergian. Ketiadaan transportasi laut yang teratur ikut menentukan bergerak atau tidaknya roda perekonomian desa.
Transportasi Laut Jadi Urat Nadi Warga Wetar Selatan
Keluhan warga semakin serius ketika transportasi laut dikaitkan dengan pelayanan kesehatan.
Masyarakat Masapun dan Mahuan menyampaikan bahwa keterbatasan sarana transportasi menjadi persoalan besar ketika ada warga yang membutuhkan penanganan medis lebih lanjut.
Pasien yang membutuhkan pelayanan kesehatan lebih memadai harus dievakuasi menuju Ilwaki. Dalam kondisi tertentu, pasien bahkan harus dirujuk ke Kisar, Tiakur, Ambon maupun Kupang.
Persoalannya, seluruh proses tersebut sangat bergantung pada ketersediaan transportasi laut.









