Apa yang bisa dipelajari dari sini? Pertama, kalau kowe sugih tak terbatas, kowe bisa bikin apa saja. Ituah yang dikerjakan oleh dua crazy rich ini. Mereka kebanyakan uang dan waktu luang.
Kedua, popularitas mereka sekarang naik. Terkenal secara negatif, tetap saja terkenal. Mereka tahu, pelan-pelan orang akan lupa.
Ketiga, kalau kowe jadi orang seperti imam Katolik yang memberkati khewan-khewan ini, ingat bahwa tidak semua orang mengerti apa yang kowe bikin. Jangan hanya karena yang minta umat seagama, terus kowe njuk main berkat-berkat aja. Juga jangan sekali-sekali kowe melakukan hanya karena stipendium.
Yang terakhir, hubungan gereja Katolik dengan horang-horang kayah ini ternyata mesra sekali. Lupakanlah “option for the poor and the oppressed” yang pernah berjaya pada tahun 1990an. Sekarang ini, tampaknya yang berlaku adalah “option for the rich and successful.” Haruskah gereja membenci orang-orang kaya, demikian pernah saya dengar kotbah dari seorang imam.
Tapi mungkin memang inilah tempat gereja minoritas — diantara para kaya dan kuasa. Kowe sudah minoritas, kere pula, apa pengaruh (influence)-mu terhadap masyarakat dan negara? Option for the rich and successful” itu akhirnya menjadi “gereja influencer.” Disini saya bisa paham mengapa mengawinkan asu-asu punyanya orang-orang super kaya itu menjadi penting. Orang-orang yang asu-nya lebih berharga daripada sesamanya.









