Oleh: Wirol Haurissa, Sastrawan Maluku
Di ujung Maluku Utara, tersembunyi sebuah permata hijau yang dikelilingi birunya lautan: Pulau Batang Dua. Dua pulau kecil Mayau-Tifure.
Hidup masyarakat yang kehidupannya menyatu dengan alam, terutama dengan laut. Salah satu tradisi kuno yang mereka jaga adalah Basoma, atau menangkap ikan dengan jaring, sebuah warisan leluhur yang tak hanya sekadar mata pencarian, tapi juga denyut nadi kehidupan.
Laut bukan hanya sumber penghidupan, melainkan juga sahabat, guru, dan saksi di setiap tarikan napasnya.
Kekayaan Laut Batang Dua: Harta Karun Bawah Air
Bagaikan lukisan hidup, perairan di sekitar Pulau Batang Dua adalah permadani biru yang terhampar luas, menyimpan kekayaan yang tak terhingga.
Ribuan jenis ikan berenang bebas di sini, dan di tangkap dengan jaring dan pancing. Ada udang, kepiting, tuna yang gesit, semua tersedia seolah tak ada habisnya.
Ada musim di mana hasil tangkapan melimpah ruah, perahu kembali penuh, dan senyum merekah di setiap wajah nelayan. Anak-anak berlarian gembira di pantai, para istri sibuk membersihkan ikan, dan aroma masakan ikan segar memenuhi udara.
Laut juga punya sisi lain. Ada musim di mana ombak mengganas, angin bertiup kencang, dan ikan-ikan seolah enggan menampakkan diri. Pada musim-musim buruk seperti inilah kegigihan para nelayan diuji.








