Tiap pemimpin dan masyarakat mengetahui dan patuh terhadap azas ini, diantaranya ; oli se nyemo-nyemo budi sebahasa, yakni tatakrama bertutur kata. Suba Se Pakasan, tatakrama bertingkah laku. Ngaku se rasai, memegang teguh amanah dan kepercayaan. Cing se cingari, merakyat dan rendah hati. Mae se kolofino, Tede suba te Jou Madubo, mengedepankan rasa malu dan takut kepada Allah SWT.
Basri Salama yang saya ketahui, selama menjadi anggota DPD-RI pusat, tidak menganggap ‘gajinya’ di DPD-RI sebagai “uang pribadinya” seratus persen. Ia paham ada hak rakyat di sana, dan ada juga dana perjuangan di sana.
Ini mengingatkan saya, pada buku karya Budiman Sujatmiko, “Anak-Anak Revolusi (2014)”. saya mendapati ungkapan sang penulis, “memang para pilitisi itu punya banyak latar belakang, dan motivasi sebelum terjun ke arena politik. Ada yang berprinsip harus berkecukupan dulu, sehingga nantinya tidak tergoda mencuri saat berkuasa. Namun ada yang ‘nyaris’ tidak peduli apakah dia berkecukupan atau tidak. Tapi yang penting dia siap, untuk menjalani itu dengan segala resikonya”. Ujar Budiman Sujatmiko.
Dan Basri Salama menurut saya, adalah orang jenis KEDUA. Bukankah manusia politik itu, bekerja untuk masyarakatnya dengan kekuasaan yang dipeganngnya? Jika hanya untuk dirinya sendiri, apa bedanya dia dengan para politisi pragmatis.









