Teman-teman sekalian, ini bukan perkara personal, ini bukan perkara kita membenci satu grup atau menolak satu grup. Yang ingin kita kokohkan adalah apa yang disebut dengan supremasi sipil. Apa itu supremasi? Supremasi sipil adalah satu gagasan, satu prinsip bahwa kehidupan publik, kehidupan politik, kehidupan demokrasi, mesti dikendalikan dan dipegang oleh kaum sipil.
Mengapa kehidupan demokrasi dan kehidupan politik mesti dipegang oleh kaum sipil, tidak boleh dipegang oleh militer? Kenapa? Satu alasan saja, karena kaum militer adalah orang yang memegang senjata. Orang yang memegang senjata, orang yang mengendalikan, mendominasi alat-alat kekerasan negara, tidak boleh mengendalikan kehidupan sipil lagi.
Kenapa? Karena senjata tidak bisa diajak berdebat. Senjata tidak bisa diajak berdialog. Sementara demokrasi, kehidupan bertatanegaraan, harus berbasis pada dialog yang rasional. Itu sebabnya kita pada waktu reformasi mau mengembalikan kembali tentara ke barak. Bukan karena kita membenci tentara. Kita mencintai tentara. Tentara yang apa? Tentara yang profesional untuk menjaga pertahanan Indonesia.
Tapi kita tidak menghendaki tentara masuk ke dalam kehidupan politik. Kenapa? Karena itu akan membawa kehidupan sipil kita ke dalam marabahaya. Kenapa? Karena tadi yang saya katakan, tentara adalah kelompok sosial yang diberikan tugas untuk memegang senjata. Dan senjata tidak pernah kompatibel dengan demokrasi, senjata tidak pernah kompatibel dengan kehidupan sipil.”









