“Saya pikir ini menjadi tugas penting untuk menghidupkan kembali semangat literasi bagi mahasiswa kita. Mau tidak mau mahasiswa akan berupaya mencari buku, membaca, dan menemukan inti pokoknya,” tambahnya.
Ternate dan Rempah sebagai Pusat Peradaban Dunia
Menurut Wali Kota, buku yang dibedah memiliki relevansi kuat dengan sejarah Kota Ternate dan Maluku Utara sebagai pusat perdagangan rempah dunia sekaligus jalur peradaban Islam.
Ia menjelaskan bahwa sejak 2019, Pemkot Ternate telah memperkuat identitas daerah melalui city branding “Kota Rempah”, yang kemudian diperkuat dengan pencatatan Hak Kekayaan Intelektual pada 2021 melalui Kementerian Hukum dan HAM.
“Ternate adalah Kota Rempah. Sejarah, artefak, dan lingkungan semuanya menguatkan itu,” tegasnya.
Tauhid juga mengungkapkan hasil kajian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang menyebut Maluku Utara sebagai salah satu tumpu peradaban dunia, karena rempah menjadi magnet utama kedatangan bangsa-bangsa Eropa.
“Rempah itu menjadi magnet. Bangsa Eropa datang karena rempah. Jadi tumpu peradabannya ada di sini,” katanya.
Rempah Harus Jadi Kekuatan Ekonomi Masa Kini
Meski memiliki nilai historis tinggi, Wali Kota menegaskan bahwa rempah tidak boleh hanya dipandang sebagai nostalgia masa lalu. Ia mendorong agar rempah menjadi bagian dari roadmap ekonomi kreatif dan industri daerah.









