“Kalau kita menyatakan Ternate sebagai Kota Rempah, maka wujud nyatanya harus terlihat. Produk UMKM dan kuliner harus mampu membangkitkan industri turunan rempah,” jelasnya.
Pemkot Ternate, lanjutnya, terus mendorong promosi wisata dan rempah melalui berbagai agenda nasional dan internasional, termasuk rencana pelaksanaan Rapat Kerja Nasional Jaringan Kota Pusaka Indonesia yang akan dirangkaikan dengan seminar internasional rempah pada akhir Mei 2026.
Diskusi Sejarah Islam dan Jalur Rempah
Pada bagian akhir sambutannya, Tauhid turut menyinggung diskursus sejarah masuknya Islam di Nusantara. Ia mengaitkan jalur perdagangan rempah dengan penyebaran awal Islam, termasuk perdebatan antara wilayah Aceh dan Maluku sebagai pintu masuk Islam.
Menurutnya, posisi Maluku sebagai tujuan utama perdagangan dunia menjadikannya sangat strategis dalam sejarah penyebaran Islam.
“Maluku adalah tujuan mereka datang untuk mencari rempah. Oleh karena itu, Maluku memiliki posisi penting dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara,” ujarnya.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi bedah buku dan diskusi panel yang menghadirkan sejumlah akademisi, di antaranya Prof. Dr. Gufran M. Ali Ibrahim, Prof. Dr. Jubair Situmorang, Drs. Darsis Humah, serta Dr. Thamrin Husain. Diskusi dipandu Irmon Machmud dan berlangsung interaktif bersama mahasiswa dan dosen sebelum ditutup dengan penyerahan plakat dan sesi foto bersama.









