Berpulangnya Intelektual “Tuang Hati Jantong”

oleh -7 Dilihat

Saya pribadi pernah dua kali berjumpa dalam diskusi yang intens bersama beliau. Pertama di Tahun 2015, saat diskusi panel beliau dengan Prof. Aholiab Watloly (Guru Besar Sosiologi FISIP Unpatti) di Intermediate Training HMI. Kedua, saat sosialisai waqaf, haji dan umroh di Balai Diklat Keagamaan Provinsi Maluku. Saat itu saya terpesona dengan kemampuan beliau menjelaskan komunalitas orang Maluku dalam hubungannya dengan zakat di negerinya, Tulehu. Beliau sangat fasih menjelaskan dua hal itu dengan mengutip tesis-tesis Peter L Berger dalam The Pyramid of Sarcrife hingga pikiran-pikiran Ali Syariati tentang Haji.

Pak Nur sangat teguh sebagai seorang intelektual. Beliau juga sangat mendalam sebagai seorang Maluku. Nafas intelektualnya yang panjang telah mengantarkannya mendaki sejumlah peristiwa intelektual di Maluku hingga akhirnya tiba di penghujung hidupnya yang tenang. Beliau lalu berpulang pada dini hari di Tulehu. Negeri yang sedari dulu telah dan akan memeluk tubuhnya erat-erat sebagai seorang anak desa yang cerdas nan sederhana.

Baca Juga  Blokade Tambang Antam di Mabapura Masuk Jilid III, Warga Tuntut 1 Persen Penjualan Nikel

Pak Nur telah meninggalkan jejak, cerita dan keping-keping ingatan yang mendalam. Beliau memang meninggalkan sejumlah literatur hasil tangan dan pikiran. Namun sebagai intelektual, matinya seorang intelektual adalah redupnya satu lilin pengetahuan, keteladanan dan kebijaksanaan. Apalagi sekelas Maluku–daerah yang pernah berjaya di masa lampau, kaya secara historis dan sumber daya alamnya–kehilangan intelektual seperti beliau, persis kehilangan satu hingga dua generasi pemikiran.

No More Posts Available.

No more pages to load.